Bab 1 — Arah Pertama: Hidup yang Digerakkan oleh Diri Sendiri
Ini tentang Rana — anak perempuan
sederhana, hidup di keluarga yang pas-pasan tapi punya semangat tinggi. Rana
kecil tumbuh di keluarga sederhana; bapaknya supir angkot, ibunya penjual
makanan kecil di depan sekolahan. Ia sebenarnya memiliki adik namun meninggal
saat masih empat bulan di dalam kandungan, setelah itu orangtua Rana tidak
memiliki anak lagi.
Rana kecil sering melihat bapaknya
memperbaiki sendiri mobil angkot yang akan dikendarainya. Meski keluarga mereka
terkadang kekurangan, bapaknya tipe pekerja keras yang tidak menyerah dengan
keadaan. “Pak, capek nggak nyetir setiap hari sampe malem-malem?” “Ya capek,
tapi senang, soalnya Rana selalu semangat belajar. Itu bikin Bapak kuat lagi.”
Jawab bapak Rana terkekeh sambil mengepalkan tangan kanannya. Rana tersenyum,
mengingat betapa keras bapaknya bekerja untuknya. Pernah suatu pagi ia menunggu
bapaknya mengganti ban yang bocor karena Rana diantar bapaknya ke sekolah
sekalian bekerja. Bapaknya bilang: “Kalau mau sampai tujuan, jangan berhenti di
tengah jalan.”
Rana kecil juga sering melihat
ibunya bangun pukul dua atau tiga dini hari menyiapkan jajanan kecil yang akan
dijual ibunya esok hari. Suatu siang saat melihat ibunya membereskan
perlengkapan jualan, Rana yang baru pulang sekolah menghampiri ibunya untuk
mencium tangan, ia kemudian bertanya, “Ibu tidak merasa capek?” Ibu Rana
menoleh sebentar lalu melanjutkan beres-beresnya, “Kalau mau kita tetap bisa
makan, Rana tetap sekolah, Ibu nggak boleh merasa capek.”
Rana dibesarkan di lingkungan
yang mengharuskannya terbiasa mandiri sejak kecil. Rana akhirnya punya
kebiasaan “ngatur semuanya sendiri”, sebisa mungkin ia tidak mau bergantung
pada orang lain. Rana memiliki keyakinan kalau kebanyakan dibantu, nanti ia malah
nggak bisa melakukan semua hal sendiri. Rana dikaruniai otak yang cerdas,
karena ketekunannya dalam belajar ia sering menjadi juara kelas. Baik di
sekolah maupun di lingkungan rumahnya, Rana dikenal sebagai anak yang santun, “gadis
gigih yang jarang minta tolong”.
Suatu hari saat masih kelas enam
SD, saat itu semua temannya sudah bisa naik sepeda roda dua. Ia tidak punya
sepeda sendiri tapi di rumah ada sepeda milik bapaknya. Ia ingin sekali bisa
naik sepeda roda dua seperti teman-temannya tetapi bingung karena bapaknya
setiap hari jarang di rumah sehingga tidak punya waktu mengajari. Siang itu
dengan keberanian yang dikumpul-kumpulkan, Rana mencoba belajar naik sepeda
sendiri di lapangan yang biasa dipakai anak-anak main bola. Suasana masih sepi
karena anak-anak biasanya main bola setelah Ashar. Seperti dugaannya, ia jatuh,
berdarah. Tetapi perlahan ia mulai bisa, kemudian paham kapan mengayuh sambil
menyeimbangkan. Hari itu tak terhitung berapa luka lecet di tubuhnya, tetapi ia
tersenyum, akhirnya aku bisa main sepeda.
Sejak remaja Rana tahu ia harus belajar
keras agar dapat beasiswa, pendapatan orangtuanya tidak akan cukup jika
membayai sekolahnya sampai perguruan tinggi. Di awal kelas tiga SMA
persiapannya semakin matang, nilai-nilai mendekati sempurna sudah ia kantongi
sebagai bekal berburu beasiswa idaman.
Angin pagi di kota kecil itu
selalu membawa aroma tanah basah dan suara ayam dari ujung gang. Rana berjalan
cepat, tas punggungnya berat oleh buku pinjaman dari perpustakaan. Di
tangannya, selembar formulir beasiswa yang sudah lusuh karena terlalu sering
dilipat. “Kamu yakin bisa keterima, Na?” tanya Lika, sahabatnya sejak SD,
sambil menyesap es teh cekek di warung depan sekolah. Rana tersenyum kecil. “Ga
ada salahnya dicoba.”
Ia berkata tenang, tapi matanya
menatap jauh—melewati atap seng, melewati bukit kecil di belakang kota, seolah
sedang membayangkan dunia yang lebih luas daripada jalan tanah yang tiap hari
ia lalui. Di rumah, ibunya sedang menyiapkan nasi goreng untuk dijual, sedang
ada pasar malam di lapangan bola. Bapaknya belum pulang, mungkin nanti larut
malam. Rana tahu mereka lelah. Maka dari itu, ia tidak pernah berani bilang apa-apa,
ia pun sebenarnya takut gagal.
Malam itu, di kamar sempit yang
dindingnya ditempeli kertas catatan dan mejanya dipenuhi buku-buku pelajaran
dan kamus bekas, ia menulis di jurnal kecilnya: "Kalau aku bisa pergi
kuliah, aku janji gak akan nyia-nyiain kesempatan sekecil apa pun. Aku mau nyetir
sejauh-jauhnya." Di luar jendela, suara mesin motor bapaknya terdengar,
disusul batuk kecil dan suara sendok beradu dengan piring. Dunia terasa
sederhana malam itu—tapi di dada Rana, ada sesuatu yang tumbuh, seperti cahaya
kecil yang begitu saja menyala.
Dan ternyata cahaya itu, akan
membawanya jauh.
Setelah pergulatan panjang, penuh
keringat perjuangan dan air mata doa, Rana akhirnya kuliah di Fakultas
Ilmu Budaya (FIB) jurusan Sastra Mandarin dengan beasiswa penuh. Kampus itu
berada di kota besar, sekitar seratus lima puluh kilometer dari rumah
orangtuanya. Berkat beasiswa tersebut dan fasilitas tinggal di asrama
kampus, kedua orangtuanya akhirnya mengizinkan Rana kuliah di sana.
Di kampus pun sama, ia masih
menjadi pengemudi untuk semua hal di hidupnya, belajar keras agar tidak
menyia-nyiakan beasiswanya. Seperti kebanyakan mahasiswi aktif umumnya, ia
mengikuti beberapa organisasi mahasiswa, mengikuti seminar, baik sebagai
peserta dan semakin lama meningkat menjadi moderator. Ketika KKN pun ia menjadi
ketua kelompok dengan anggota yang terdiri dari laki-laki dan perempuan,
teman-temannya sudah percaya betul pada kemampuan Rana.
Langit sudah berwarna jingga,
Rana bergegas keluar dari Gedung, “Ranaaa! Kok buru-buru banget, nongkrong dulu
lah!” Teman-temannya, Maya, Adit, dan Gita, masih di tangga gedung, berdebat
soal revisi. “Besok pagi ada bimbingan lagi. Kalau nggak pulang sekarang, bisa
kesiangan.” Sahutnya. Teman-temannya bersorak pelan, menggoda, tapi Rana hanya
melambaikan tangan. Di parkiran, Rana memasang helm, menyalakan motor. Di
gantungan kunci motornya, foto kecil empat orang waktu KKN, semua tertawa
lepas, tanpa beban.
Motor perlahan keluar dari
halaman kampus. Suara mesin tua dari kendaraan yang ia beli belum genap enam bulan
lalu itu mengisi sunyi jalan yang ia lalui sore itu. Motor yang diperolehnya
dari berhemat dan rajin menyisihkan uang saku dari beasiswanya. Suara motor tak
bisa membiaskan desah pelannya, “Entah kenapa, aku selalu jadi pengemudi. Kadang
pengen berhenti, tapi… kalau berhenti, siapa yang jalanin?”
“Kalau mau sampai tujuan, jangan
berhenti di tengah jalan.” Kata-kata bapaknya saat itu kembali terngiang
bersama motor yang terus melaju. Kehidupan
Rana bak roda sepeda di masa kecilnya = terus berputar tanpa jeda.
Halo semua, ini karya terbaruku..😄berkisah tentang seseorang yang mandiri banget, akhirnya jadi seseorang yang -----
hehe..
Wah udah 2 tahun sejak tulisan terakhirku, seneeeng banget bisa nulis lagi. Oke, sampai ketemu di bagian-bagian Passenger Princess selanjutnya yaa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar