my_ramen
Jumat, 03 Juli 2026
真的吗?!
Sabtu, 20 Juni 2026
Passenger Princess (Bagian II)
Bab 2 - Dunia Kerja dan Kelelahan, seperti jalanan yang macet..
Lulus dengan predikat cumlaude, Rana akhirnya bekerja di perusahaan swasta besar, nilai tawarnya cukup tinggi berkat kemampuannya berbahasa Mandarin dan ragam prestasi yang ia suguhkan melalui CV. Rana resmi bekerja di perusahaan tersebut sebagai asisten manajer dengan tugas utamanya menangani komunikasi korporat internasional.
Sebenarnya, Rana berada di titik tengah; di atas ada atasan yang menuntut hasil, sementara di sekitarnya ada beberapa rekan kerja yang melempar beban agar tugas mereka terlihat selesai (terlebih karena ia termasuk orang baru), sementara ekspektasi semua orang terhadap asisten manajer adalah “pasti bisa handle semuanya.” Mereka berdalih, “Rana disiplin dan serba bisa”. Posisi Rana memang kurang menguntungkan.
“Rana, tolong bantu revisi laporan ekspor itu, ya? Soalnya aku masih sibuk ngurusin invoice.” “Oke, aku bantu,” jawabnya singkat, meski itu jelas bukan bagiannya, di depannya layar laptop sudah penuh dengan file terbuka. “Rana, bisa bantu buatkan draf surat buat klien China? Aku belum sempat buka file-nya.” “Itu kan bagian kamu, Din.” “Iya, tapi kamu kan lebih cepat ngerjainnya. Tolong yaa..” Rana menatapnya sejenak. Rekannya hanya tertawa kecil, lalu pergi begitu saja.
Salah satu divisi yang sering bersinggungan dengan divisi tempat Rana adalah Business Development. Di divisi tersebut ada seorang pria lajang bernama Ravi, ia sudah di perusahaan itu dua tahun lebih awal dari Rana. Ravi sering memulai percakapan baik melalui chat maupun saat menunggu meeting mulai. Ravi dan Rana sempat juga beberapa kali makan siang bersama di luar., orang-orang menyangka ada percikan asmara diantara mereka, dan memang begitulah awalnya. Namun setelah beberapa bulan berlalu, hubungan mereka tidak bisa berkembang lebih jauh lagi, alasannya? Rana sering “terlalu sibuk” dan tidak bisa terbuka. Setelah perpisahan tak terdeklarasikan, Rana sempat merasakan kosong beberapa waktu, tapi ia tidak bisa berbuat banyak, dan perlahan ia pun kembali larut dengan deadline-deadlinenya. Saat itu sudah tiga tahun ia di perusahaan.
Semakin lama titik-titik kecil tanda burnout semakin banyak, penyebabnya sudah bisa ditebak: tidur larut, lupa makan, hidup hanya untuk kerja. Rana cukup jarang pulang ke rumah orangtuanya, mungkin hanya saat lebaran. Malam-malam lembur, makanan instan, Rana semakin lama semakin kehilangan arah hidupnya sendiri. Di hari kedua sebelum pergantian tahun, ia jalan-jalan sore dengan skuternya, awalnya ia hanya ingin membeli makan untuk dibawa pulang. Ia menyadari bahwa pusat kota sangat ramai dan terang, bukan dengan lampu, tetapi dengan kehidupan. Kendaraan berlalu lalang, orang-orang menikmati sore yang cerah itu, pedagang mainan anak-anak di pinggir jalan melengkapi suasana, serta cuaca bagus dengan angin berhembus lembut. Suasana di luar terlampau meriah bagi Rana.
Suatu hari Rana merasa pusing saat bangun pagi, namun ia abaikan dan bekerja seperti biasa. Meeting di kantor dimajukan mendadak karena pimpinan harus terbang ke Malaysia siang itu juga, Rana mempersiapkan segala keperluan rapat sambil menahan sakit di kepala. Sorenya saat sedang melahap makanan dari layanan pesan antar, rekan kerjanya meminta “bantuan” lagi untuk merevisi keseluruhan rancangan kegiatan di Uluwatu dengan deadline besok pagi, temannya beralasan harus pulang cepat karena menghadiri acara bridal shower temannya, ia merasa tidak enak karena sudah janji akan datang. Rana kembali lembur sendirian. Namun entah kenapa di malam itu ia benar-benar merasa kosong.
Rana pulang larut naik taksi, ia melihat bayangan dirinya di jendela mobil namun kalah dari lampu gedung yang berkerlap-kerlip sepanjang perjalanan yang hening. Rana membatin seolah tersadar akan sesuatu, “mau ngapain sampai kayak gini, setelah semua ini lalu apa, aku mau ke mana?” Setelah hampir lima tahun di perusahaan itu, dalam hal materi, gajinya lebih dari cukup untuk biaya hidupnya sendiri, ia rutin mengirimkan uang bulanan ke orang tua meski mereka tidak memintanya, Rana juga punya tabungan yang nilainya lumayan, terlebih ia pribadi yang hemat. “Maaf mba, ini tujuannya ke mana?” tanya sopir taksi, Rana terlonjak kaget, bahkan ia lupa memberitahukan tujuan pulangnya.
Sabtu, 11 April 2026
Passenger Princess (Bagian I)
Bab 1 — Hidup yang Digerakkan oleh Diri Sendiri
Ini tentang Rana — anak perempuan
sederhana, hidup di keluarga yang pas-pasan tapi punya semangat tinggi. Rana
kecil tumbuh di keluarga sederhana; bapaknya supir angkot, ibunya penjual
makanan kecil di depan sekolahan. Ia sebenarnya memiliki adik namun meninggal
saat masih empat bulan di dalam kandungan, setelah itu orangtua Rana tidak
memiliki anak lagi.
Rana kecil sering melihat bapaknya
memperbaiki sendiri mobil angkot yang akan dikendarainya. Meski keluarga mereka
terkadang kekurangan, bapaknya tipe pekerja keras yang tidak menyerah dengan
keadaan. “Pak, capek nggak nyetir setiap hari sampe malem-malem?” “Ya capek,
tapi senang, soalnya Rana selalu semangat belajar. Itu yang bikin Bapak kuat lagi.”
Jawab bapak Rana terkekeh sambil mengepalkan tangan kanannya. Rana tersenyum,
mengingat betapa keras bapaknya bekerja untuknya. Pernah suatu pagi ia menunggu
bapaknya mengganti ban yang bocor karena Rana diantar bapaknya ke sekolah
sekalian bekerja. Bapaknya bilang: “Kalau mau sampai tujuan, jangan berhenti di
tengah jalan ya.”
Rana kecil juga sering melihat
ibunya bangun pukul dua atau tiga dini hari menyiapkan jajanan kecil yang akan
dijual ibunya pagi harinya. Suatu siang saat melihat ibunya membereskan
perlengkapan jualan, Rana yang baru pulang sekolah menghampiri ibunya untuk
mencium tangan, ia kemudian bertanya, “Ibu nggak merasa capek?” Ibu Rana
menoleh sebentar lalu melanjutkan beres-beresnya, “Kalau mau kita tetap bisa
makan, Rana tetap sekolah, Ibu nggak boleh merasa capek.”
Rana dibesarkan di lingkungan
yang mengharuskannya terbiasa mandiri sejak kecil. Rana akhirnya punya
kebiasaan “ngatur semuanya sendiri”, sebisa mungkin ia tidak mau bergantung
pada orang lain. Rana memiliki keyakinan kalau kebanyakan dibantu, nanti ia malah
nggak bisa melakukan semua hal sendiri. Rana dikaruniai otak yang cerdas,
karena ketekunannya dalam belajar ia sering menjadi juara kelas. Baik di
sekolah maupun di lingkungan rumahnya, Rana dikenal sebagai anak yang santun, “gadis
gigih yang jarang minta tolong”.
Suatu hari saat masih kelas enam
SD, saat itu semua temannya sudah bisa naik sepeda roda dua. Ia tidak punya
sepeda sendiri tapi di rumah ada sepeda milik bapaknya. Ia ingin sekali bisa
naik sepeda roda dua seperti teman-temannya tetapi bingung karena bapaknya
setiap hari jarang di rumah sehingga tidak punya waktu mengajari. Siang itu
dengan keberanian yang dikumpul-kumpulkan, Rana mencoba belajar naik sepeda
sendiri di lapangan yang biasa dipakai anak-anak main bola. Suasana masih sepi
karena anak-anak biasanya main bola setelah Ashar. Seperti dugaannya, ia jatuh,
berdarah. Hari demi hari ia tekun belajar naik sepeda sendiri. Perlahan ia mulai bisa, kemudian paham kapan mengayuh sambil
menyeimbangkan. Tak terhitung berapa luka lecet di tubuhnya, tetapi ia
tersenyum, akhirnya aku bisa main sepeda!
Sejak remaja Rana tahu ia harus belajar
keras agar dapat beasiswa, pendapatan orangtuanya tidak akan cukup jika
membayai sekolahnya sampai perguruan tinggi. Di akhir kelas dua SMA
persiapannya semakin matang, nilai-nilai mendekati sempurna sudah ia kantongi
sebagai bekal berburu beasiswa idaman.
Angin pagi di kota kecil itu
selalu membawa aroma tanah basah dan suara ayam dari ujung gang. Rana berjalan
cepat, tas punggung siswi kelas tiga SMA itu berat oleh buku pinjaman dari perpustakaan. Di
tangannya, selembar formulir beasiswa yang sudah lusuh karena terlalu sering
dilipat. “Kamu yakin bisa keterima, Na?” tanya Lika, sahabatnya sejak SD,
sambil menyesap es teh cekek di warung depan sekolah. Rana tersenyum kecil. “Ga
ada salahnya dicoba.”
Ia berkata tenang, tapi matanya
menatap jauh—melewati atap seng, melewati bukit kecil di belakang kota, seolah
sedang membayangkan dunia yang lebih luas daripada jalan tanah yang tiap hari
ia lalui. Di rumah, ibunya sedang menyiapkan nasi goreng untuk dijual, pekan itu sedang
ada pasar malam di lapangan bola. Bapaknya belum pulang, mungkin nanti larut
malam. Rana tahu mereka lelah. Maka dari itu, ia tidak pernah berani bilang apa-apa,
ia pun sebenarnya takut gagal.
Malam itu, di kamar sempit yang
dindingnya ditempeli kertas catatan dan mejanya dipenuhi buku-buku pelajaran
dan kamus bekas, ia menulis di jurnal kecilnya: "Kalau aku bisa pergi
kuliah, aku janji gak akan nyia-nyiain kesempatan sekecil apa pun. Aku mau ngayuh sepeda sejauh-jauhnya." Di luar jendela, suara mesin motor bapaknya terdengar,
disusul batuk kecil dan suara sendok beradu dengan piring. Dunia terasa
sederhana malam itu—tapi di dada Rana, ada sesuatu yang tumbuh, seperti cahaya
kecil yang begitu saja menyala.
Dan ternyata cahaya itu, akan
membawanya jauh.
Setelah pergulatan panjang, penuh
keringat perjuangan dan air mata serta doa, Rana akhirnya kuliah di Fakultas
Ilmu Budaya (FIB) jurusan Sastra Mandarin dengan beasiswa penuh. Kampus itu
berada di kota besar, sekitar seratus lima puluh kilometer dari rumah
orangtuanya. Berkat beasiswa tersebut dan fasilitas tinggal di asrama
kampus, kedua orangtuanya akhirnya mengizinkan Rana kuliah di sana.
Di kampus pun sama, ia terus belajar keras agar tidak
menyia-nyiakan beasiswanya. Seperti kebanyakan mahasiswi aktif umumnya, ia
mengikuti beberapa organisasi mahasiswa, mengikuti seminar, baik sebagai
peserta dan semakin lama meningkat menjadi moderator. Ketika KKN pun ia menjadi
ketua kelompok dengan anggota yang terdiri dari laki-laki dan perempuan,
teman-temannya sudah percaya betul pada kemampuan Rana.
Langit sudah berwarna jingga,
Rana bergegas keluar dari Gedung, “Ranaaa! Kok buru-buru banget, nongkrong dulu
lah!” Teman-temannya, Maya, Adit, dan Gita, masih di tangga gedung, berdebat
soal revisi. “Besok pagi ada bimbingan lagi. Kalau nggak pulang sekarang, bisa
kesiangan.” Sahutnya. Teman-temannya bersorak pelan, menggodanya untuk singgah sejenak, tapi Rana hanya
melambaikan tangan. Di parkiran, Rana memasang helm, menyalakan motor. Di
gantungan kunci motornya, foto kecil empat orang waktu KKN, semua tertawa
lepas, tanpa beban.
Motor perlahan keluar dari
halaman kampus. Suara mesin tua dari kendaraan yang ia beli belum genap enam bulan
lalu itu mengisi sunyi jalan yang ia lalui sore itu. Motor yang diperolehnya
dari berhemat dan rajin menyisihkan uang saku dari beasiswanya. Suara motor tak
bisa membiaskan desah pelannya, “Entah kenapa, kadang rasanya capek juga ngurusin semuaa hal sendiri. Pengen berhenti, tapi… kalau berhenti, siapa yang bantu aku?”
“Kalau mau sampai tujuan, jangan
berhenti di tengah jalan, ya.” Kata-kata bapaknya saat itu kembali terngiang
bersama motor yang terus melaju. Kehidupan
Rana bak roda sepeda di masa kecilnya = terus berputar tanpa jeda.
Halo semua, ini karya terbaruku..😄berkisah tentang seseorang yang mandiri banget, akhirnya jadi seseorang yang -----
hehe..
Wah udah 2 tahun sejak tulisan terakhirku, seneeeng banget bisa nulis lagi. Oke, sampai ketemu di bagian-bagian Passenger Princess selanjutnya yaa..
Kamis, 25 Mei 2023
Bunga di Hati
AKU SIBUK,
mengagumi mekarnya ragam bunga di luaran, tanpa aku sadari selalu ada bunga-bunga mekar di hatiku tanpa mengenal musim, bunga-bunga itu orangtuaku.
Mereka yang berpeluh mencari nafkah tapi tak mengeluh aku yg memakai hasilnya.. kuhabiskan untuk sekolah, baju sepatu, kugunakan tanpa enggan utk handphone dan pulsanya. bahkan masih ada kue di ulangtahunku!
Mereka yg menahan kantuk demi mendoakanku siang dan malam, sungguh-sungguh bersedekah demi berharap ridho Allah memudahkan jalanku di dunia.
Dan aku masih mengira, langkah ringanku di dunia ini sudahlah menjadi hakku semata.
Tidak mampu jasa orangtua dibalas anak, sedikitpun,
sampai kapanpun.
Selasa, 11 April 2023
Garis hidup
"Ah itu terlalu sedikit.." ujarku melihat berapa banyak yang gadis ini sendokkan ke piringnya. Alchentys terlalu perhitungan, bahkan makan banyak pun tidak akan mengubah penampilannya. Ia bukan orang yang mudah gemuk! Tapi ia tidak menggubrisku, ia lanjutkan dengan mengambil dua potong lauk lalu matanya mengitari ruangan mencari tempat duduk kosong. "Ini pesta kelulusan Ratervyn, tidak ada salahnya ikut memeriahkannya dengan melupakan dietmu." sambungku. "Kau sendiri, mana makananmu? dasar tukang omel." timpalnya kemudian. "Ya nanti, aku belum lapar.." diam-diam mataku berkeliling mencari sosok yang sudah menjadi tujuanku sejak dari rumah tadi.
Sosok itu tertangkap mataku, sedang bercakap-cakap dengan teman sekelas kami juga. Sudah, sudah puas aku hanya dengan menemukannya seperti itu. "Oke aku akan ambil makananku.."
Ratervyn menghampiri kami saat baru selesai makan, "sepertinya aku berhasil menciptakan momen indah sebelum aku meninggalkan kota ini. aku pasti akan merindukan mereka semua.." Ratervyn akan melanjutkan kuliah di negeri kanguru Australia, ia memperoleh beasiswa dari pemerintah Australia dan akan mengambil jurusan hubungan internasional. Aku dan Alchentys juga melanjutkan kuliah di dua tempat berbeda, Alchentys di Malaysia jurusan rekayasa pertanian dan aku di Beijing dengan jurusan penerjemahan tingkat tinggi. Kami pun sama-sama memperoleh beasiswa dari pemerintah kedua negara tersebut.
Dvanerio's POV:
Keadaan di negara ini semakin kacau, aku mengkhawatirkan nasib ayah sebagai kepala polisi, dan juga mengkhawatirkan kami.. Lamunanku buyar ketika pintu kamarku diketuk, sudah pukul 11 malam, suara ayah terdengar dari balik daun pintu. Aku membukakan pintu, sinar temaram yang menerpa wajah ayah menambah kekakuannya. "Ayah akan menyekolahkanmu ke China." ujarnya pendek. Aku tahu maksudnya, tak perlu aku minta penjelasan lebih jauh, tak perlu aku banyak bertanya. Hanya kupandangi raut dan gurat wajahnya lama, mungkin tidak lama lagi wajah ini yang akan amat kurindukan. "Bagaimana ibu?" sedikit penasaranku tercurah juga. "Ibu bersama ayah, di sini. Jika keadaan lebih buruk dari ini, ia akan menyusul keluarganya ke Malaysia."
Shamyra's POV:
Jumat, 05 Maret 2021
Jalan jalan kilat
Oke jadi kemarin itu bener-bener tetiba aja pengen ke satu mall karena nyari sesuatu yg udah lama pengen banget dibeli. Akhirnya selesai kerjaan, melipirlah aku naik gojek ke sini 👉
Dan karena perginya aja udah hampir jam 6 sore, so nyampe sana aku sholat dulu di musholanya,, gegara pandemi semua mall setau aku udah ga nyediain mukena lagi, jadi aku kemarin bawa mukena.
![]() |
| (tapi yg warna putih itu bukan mukena aku, ya) |
Mall ini termasuk deket dari tempat kerja, apalagi aku naik gojek, jadinya cepet sampe.
So, abis sholat sebenernya udah lappppeeer... Tapi oke aku cuss dulu ke tempat tujuan aku, biar makannya tenang 😜
![]() |
| Ini hasil perburuannya, 7 pcs! |
Seneng banget rasanya bisa beli apa yang aku pengenin sejak lama itu..
Memang rasanya kayak kita deserve ya, karena kita kerja keras, punya uang sendiri, karena aku bahkan syukurnya jarang banget beli baju, kalo bener-bener butuh aja. Jadi rasa senengnya setelah bisa beli apa yg diinginkan itu, bener-bener seneng.
Jadi setelah perburuan selesai, aku ke tempat makan yg udah agak lama emang pengen ke sana juga..
Jadi kemarin malem itu aku bener-bener kea treat diri sendiri dan aku happy banget.
Thanks for Reading 📖 see you in my next life story!
Senin, 21 Desember 2020
Hari ibu (?)
Semakin lama semakin enggan aku mengucapkan atau melakukan action apapun di tanggal 22 Desember. Pun hari ini. Menurut diriku pribadi, ungkapan perasaan sayang ke ibu ga cuma satu hari, dan kalau di satu hari itu berlaku habis-habisan sementara di 300an hari lainnya cuek, tampaknya klise sekali ucapan hari ibu itu. Alasan lain dan ini lebih utama adalah aku khawatir, dari postingan tentang ibu yg aku buat bisa bikin sedih temen-temenku yg qadarullah Ibunya udah ga ada.
Padahal, aku adalah orang yg cuma denger beberapa bait lagu ttg ibu aja nangis, ada hal remeh yg berkaitan dengan ibu aja mewek. Padahal aku juga pengen posting sesuatu, sama halnya jika aku dapat ucapan serupa dari orang lain rasanya seneng. Tapi hatiku enggan.
Lebih baik kirim personal message aja. Ga perlu semua dunia tau, tapi cukup ibuku tau aku memang sayang dia. 💕
Senin, 28 September 2020
Isi hati
Seribu doa ingin kupanjatkan padaMu. Kusampaikan semua keluh dan asaku...
Namun, lidahku tak mampu. Hanya terdiam dan menikmati kesunyian, terjebak kenangan.
Lalu, air mataku mengalir sendu. Semoga sampai isi hatiku padaMu...
Ttd,
Pagi ini.
Minggu, 26 Januari 2020
Corona Virus (edisi belajar bahasa Mandarin)
Kurang dari sebulan yang lalu tiba-tiba muncul virus baru yang langsung mewabah di negeri tirai bambu, China. Kota-kota besar yang terinfeksi segera mengisolasi warganya, banyak toko yang tutup, teman saya yang tidak pulang dan stay di asrama menceritakan "di sini seperti kota hantu".
Semoga musibah ini cepat berlalu, terutama sekali semoga segera dirilis vaksinnya.
Tenang yah ada translate-an nya... Ini juga baru banget belajar (sekitar 3 bulan yg lalu) jadi buat yang memahami Hanzi ini pastilah tulisan yg sangat sederhana, dan tentunya masih banyak kesalahan juga.
Mohon dimaafkan yaaa.
Corona virus (冠状病毒)
攻击呼吸道的病毒,症状类似于肺炎, 由动物传播. 中国湖北省武汉市是传播的源头.
这种病毒是一种称为2019-nCoV的新类型病毒 (novel coronavirus).
这种病毒已经感染了至少2000人,并且没有疫苗,需要做的预防措施包括:
1. 避免去动物市场
2. 避免去拥挤的地方
3. 使用鼻和嘴保护,眼睛保护,并穿封闭的衣服
4. 从户外回来后用肥皂洗手
5. 打喷嚏和咳嗽时遮住鼻口,立即洗手
6. 保持体力
7. 避免吃生肉和生鸡蛋。
8. 如果呼吸急促,请访问健康中心,尤其是在旅行后发生
2020年1月26日,这种病毒夺去了56人的生命,而关于该病毒的第一次报告直到一个月前才公布.
事实上,一些国家(如澳大利亚和美国)报告了这种病毒感染.
武汉居民是孤立的,因为他们不允许离开他们的家和活动在公共场所.
这种病毒困扰着我们所有人,因为它的传播非常快,没有疫苗. 然而,无论我们身在何处,我们都会保持健康,有良好的饮食和锻炼.
昨天我们不知道 "novel coronavirus",今天有56人死于这种病毒,明天仍然是谜。为自己和他人做到最好. 愿我们永远受到全能的上帝的保护.
Virus Corona (Corona Virus)
Virus yang menyerang saluran pernapasan ini memiliki gejala yang mirip dengan pneumonia dan ditularkan oleh hewan. Kota Wuhan di Provinsi Hubei, China adalah sumber penularannya.
Virus ini adalah jenis virus baru yang dikenal sebagai 2019-nCoV (novel coronavirus) yang telah menginfeksi lebih dari 2000 orang dan belum memiliki vaksin.
Tindakan pencegahan yang perlu dilakukan diantaranya:
1. Hindari pergi ke pasar hewan;
2. Hindari pergi ke tempat ramai;
3. Gunakan pelindung hidung dan mulut, pelindung mata, dan kenakan pakaian tertutup;
4. Cuci tangan Anda dengan sabun SEGERA setelah kembali dari luar;
5. Tutup hidung dan mulut saat bersin dan batuk, SEGERA cuci tangan;
6. Jaga daya tahan tubuh (pola makan yang baik dan olahraga) ;
7. Hindari makan daging dan telur mentah;
8. Jika Anda sesak napas, kunjungi pusat kesehatan, terutama jika dirasakan setelah kembali dari perjalanan.
Pada tanggal 26 Januari 2020, virus tersebut telah merenggut nyawa 56 orang, sementara laporan pertama tentang virus ini dirilis kurang dari sebulan yang lalu (31 Desember 2019).
Bahkan, beberapa negara (seperti Australia dan Amerika Serikat) telah melaporkan adanya infeksi virus ini.
Penduduk Wuhan terisolasi karena mereka tidak diizinkan meninggalkan rumah dan beraktifitas di tempat-tempat umum.
Virus ini sungguh mengkhawatirkan kita semua karena menyebar sangat cepat dan belum ada vaksinnya.
Akan tetapi sebenarnya, di mana pun kita berada, kita tetaplah harus menjaga kesehatan, memiliki diet seimbang dan olahraga yang baik.
Kemarin kita tidak tahu tentang novel coronavirus ini.
Hari ini 56 orang meninggal karenanya,
Sementara hari esok masih menjadi misteri, lakukanlah selalu yang terbaik untuk diri kita sendiri dan orang lain.
Semoga kita selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sumber : kompas.com
jogja.tribunnews.com
Hangzhou Expat official account
阿依娜 (a yi na - Pratiwi .N),
北京外国语大学留学生, 2019 (international student from Beijing Foreign Studies University, 2019).
Selasa, 30 Juli 2019
Liburan
Dari tipe Superior ke tipe Cottage dan itu asli baaaguuus bangeeet! Ada teras dengan kursi yang nyaman sesuai keinginan aku pula..happy deh jadinya, habis kayak yg bisa baca pikiran gitu wkwkwkw...
Sorenya lapar truz pengen jalan jalan, jadi kami makan di pujasera dekat alun2 Kota Batu. Hujan sebentar, pas reda lanjut cari mesjid dan sholat magrib and cuss Museum angkut berbekal GMaps.
5 juli
Selecta dan naik Skybike
Pulang dr Selecta beli Apel Batu di pinggir jalan, saking pengennya ngerasain yg asli Batu. Truz otw Jatimpark 3. Wow tiketnya! tapi ga rugi sih...bagus bagus semua.
Malemnya ke BNS, main banyak Games dan di Games 'glinding bola ke kolom hadiah' dapet Jackpot 2x!! aku sekali suami sekali, beruntung ya.
(yang mau tanya-tanya gimana caranya aku ke Bromo, naik kendaraan apa aja, tips perjalanan ke Bromo, ketik di komentar yaaa...)
Pulang dari Bromo sempet ke Malang sebentar untuk beberapa keperluan dan muter-muter juga, nginep di cityhub Kajoetangan. Bagus juga kamarnyaa..ada balkonnya...
真的吗?!
Udah sampai segini aja ya, waaah.. *clappingmyhands Tapi entah kenapa rasanya ga jauh berbeda dari umur 25, beneran!
-
AKU SIBUK, mengagumi mekarnya ragam bunga di luaran, tanpa aku sadari selalu ada bunga-bunga mekar di hatiku tanpa mengenal musim, bunga-bun...
-
Bab 1 — Hidup yang Digerakkan oleh Diri Sendiri Ini tentang Rana — anak perempuan sederhana, hidup di keluarga yang pas-pasan tapi punya...


























