Sabtu, 11 April 2026

Passenger Princess (Bagian I)

 Bab 1 — Arah Pertama: Hidup yang Digerakkan oleh Diri Sendiri


Ini tentang Rana — anak perempuan sederhana, hidup di keluarga yang pas-pasan tapi punya semangat tinggi. Rana kecil tumbuh di keluarga sederhana; bapaknya supir angkot, ibunya penjual makanan kecil di depan sekolahan. Ia sebenarnya memiliki adik namun meninggal saat masih empat bulan di dalam kandungan, setelah itu orangtua Rana tidak memiliki anak lagi.

Rana kecil sering melihat bapaknya memperbaiki sendiri mobil angkot yang akan dikendarainya. Meski keluarga mereka terkadang kekurangan, bapaknya tipe pekerja keras yang tidak menyerah dengan keadaan. “Pak, capek nggak nyetir setiap hari sampe malem-malem?” “Ya capek, tapi senang, soalnya Rana selalu semangat belajar. Itu yang bikin Bapak kuat lagi.” Jawab bapak Rana terkekeh sambil mengepalkan tangan kanannya. Rana tersenyum, mengingat betapa keras bapaknya bekerja untuknya. Pernah suatu pagi ia menunggu bapaknya mengganti ban yang bocor karena Rana diantar bapaknya ke sekolah sekalian bekerja. Bapaknya bilang: “Kalau mau sampai tujuan, jangan berhenti di tengah jalan ya.”

Rana kecil juga sering melihat ibunya bangun pukul dua atau tiga dini hari menyiapkan jajanan kecil yang akan dijual ibunya pagi harinya. Suatu siang saat melihat ibunya membereskan perlengkapan jualan, Rana yang baru pulang sekolah menghampiri ibunya untuk mencium tangan, ia kemudian bertanya, “Ibu nggak merasa capek?” Ibu Rana menoleh sebentar lalu melanjutkan beres-beresnya, “Kalau mau kita tetap bisa makan, Rana tetap sekolah, Ibu nggak boleh merasa capek.”

Rana dibesarkan di lingkungan yang mengharuskannya terbiasa mandiri sejak kecil. Rana akhirnya punya kebiasaan “ngatur semuanya sendiri”, sebisa mungkin ia tidak mau bergantung pada orang lain. Rana memiliki keyakinan kalau kebanyakan dibantu, nanti ia malah nggak bisa melakukan semua hal sendiri. Rana dikaruniai otak yang cerdas, karena ketekunannya dalam belajar ia sering menjadi juara kelas. Baik di sekolah maupun di lingkungan rumahnya, Rana dikenal sebagai anak yang santun, “gadis gigih yang jarang minta tolong”.

Suatu hari saat masih kelas enam SD, saat itu semua temannya sudah bisa naik sepeda roda dua. Ia tidak punya sepeda sendiri tapi di rumah ada sepeda milik bapaknya. Ia ingin sekali bisa naik sepeda roda dua seperti teman-temannya tetapi bingung karena bapaknya setiap hari jarang di rumah sehingga tidak punya waktu mengajari. Siang itu dengan keberanian yang dikumpul-kumpulkan, Rana mencoba belajar naik sepeda sendiri di lapangan yang biasa dipakai anak-anak main bola. Suasana masih sepi karena anak-anak biasanya main bola setelah Ashar. Seperti dugaannya, ia jatuh, berdarah. Hari demi hari ia tekun belajar naik sepeda sendiri. Perlahan ia mulai bisa, kemudian paham kapan mengayuh sambil menyeimbangkan. Tak terhitung berapa luka lecet di tubuhnya, tetapi ia tersenyum, akhirnya aku bisa main sepeda!

Sejak remaja Rana tahu ia harus belajar keras agar dapat beasiswa, pendapatan orangtuanya tidak akan cukup jika membayai sekolahnya sampai perguruan tinggi. Di akhir kelas dua SMA persiapannya semakin matang, nilai-nilai mendekati sempurna sudah ia kantongi sebagai bekal berburu beasiswa idaman.

Angin pagi di kota kecil itu selalu membawa aroma tanah basah dan suara ayam dari ujung gang. Rana berjalan cepat, tas punggung siswi kelas tiga SMA itu berat oleh buku pinjaman dari perpustakaan. Di tangannya, selembar formulir beasiswa yang sudah lusuh karena terlalu sering dilipat. “Kamu yakin bisa keterima, Na?” tanya Lika, sahabatnya sejak SD, sambil menyesap es teh cekek di warung depan sekolah. Rana tersenyum kecil. “Ga ada salahnya dicoba.”

Ia berkata tenang, tapi matanya menatap jauh—melewati atap seng, melewati bukit kecil di belakang kota, seolah sedang membayangkan dunia yang lebih luas daripada jalan tanah yang tiap hari ia lalui. Di rumah, ibunya sedang menyiapkan nasi goreng untuk dijual, pekan itu sedang ada pasar malam di lapangan bola. Bapaknya belum pulang, mungkin nanti larut malam. Rana tahu mereka lelah. Maka dari itu, ia tidak pernah berani bilang apa-apa, ia pun sebenarnya takut gagal.

Malam itu, di kamar sempit yang dindingnya ditempeli kertas catatan dan mejanya dipenuhi buku-buku pelajaran dan kamus bekas, ia menulis di jurnal kecilnya: "Kalau aku bisa pergi kuliah, aku janji gak akan nyia-nyiain kesempatan sekecil apa pun. Aku mau ngayuh sepeda sejauh-jauhnya." Di luar jendela, suara mesin motor bapaknya terdengar, disusul batuk kecil dan suara sendok beradu dengan piring. Dunia terasa sederhana malam itu—tapi di dada Rana, ada sesuatu yang tumbuh, seperti cahaya kecil yang begitu saja menyala.

Dan ternyata cahaya itu, akan membawanya jauh.

Setelah pergulatan panjang, penuh keringat perjuangan dan air mata serta doa, Rana akhirnya kuliah di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) jurusan Sastra Mandarin dengan beasiswa penuh. Kampus itu berada di kota besar, sekitar seratus lima puluh kilometer dari rumah orangtuanya. Berkat beasiswa tersebut dan fasilitas tinggal di asrama kampus, kedua orangtuanya akhirnya mengizinkan Rana kuliah di sana.

Di kampus pun sama, ia terus belajar keras agar tidak menyia-nyiakan beasiswanya. Seperti kebanyakan mahasiswi aktif umumnya, ia mengikuti beberapa organisasi mahasiswa, mengikuti seminar, baik sebagai peserta dan semakin lama meningkat menjadi moderator. Ketika KKN pun ia menjadi ketua kelompok dengan anggota yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, teman-temannya sudah percaya betul pada kemampuan Rana.

Langit sudah berwarna jingga, Rana bergegas keluar dari Gedung, “Ranaaa! Kok buru-buru banget, nongkrong dulu lah!” Teman-temannya, Maya, Adit, dan Gita, masih di tangga gedung, berdebat soal revisi. “Besok pagi ada bimbingan lagi. Kalau nggak pulang sekarang, bisa kesiangan.” Sahutnya. Teman-temannya bersorak pelan, menggodanya untuk singgah sejenak, tapi Rana hanya melambaikan tangan. Di parkiran, Rana memasang helm, menyalakan motor. Di gantungan kunci motornya, foto kecil empat orang waktu KKN, semua tertawa lepas, tanpa beban.

Motor perlahan keluar dari halaman kampus. Suara mesin tua dari kendaraan yang ia beli belum genap enam bulan lalu itu mengisi sunyi jalan yang ia lalui sore itu. Motor yang diperolehnya dari berhemat dan rajin menyisihkan uang saku dari beasiswanya. Suara motor tak bisa membiaskan desah pelannya, “Entah kenapa, kadang rasanya capek juga ngurusin semuaa hal sendiri. Pengen berhenti, tapi… kalau berhenti, siapa yang bantu aku?”

“Kalau mau sampai tujuan, jangan berhenti di tengah jalan, ya.” Kata-kata bapaknya saat itu kembali terngiang bersama motor yang terus melaju.  Kehidupan Rana bak roda sepeda di masa kecilnya = terus berputar tanpa jeda.


Halo semua, ini karya terbaruku..😄berkisah tentang seseorang yang mandiri banget, akhirnya jadi seseorang yang ----- 

hehe..

Wah udah 2 tahun sejak tulisan terakhirku, seneeeng banget bisa nulis lagi. Oke, sampai ketemu di bagian-bagian Passenger Princess selanjutnya yaa..

Kamis, 25 Mei 2023

Bunga di Hati

AKU SIBUK,

mengagumi mekarnya ragam bunga di luaran, tanpa aku sadari selalu ada bunga-bunga mekar di hatiku tanpa mengenal musim, bunga-bunga itu orangtuaku.

Mereka yang  berpeluh mencari nafkah tapi tak mengeluh aku yg memakai hasilnya.. kuhabiskan untuk sekolah, baju sepatu, kugunakan tanpa enggan utk handphone dan pulsanya. bahkan masih ada kue di ulangtahunku!

Mereka yg menahan kantuk demi mendoakanku siang dan malam, sungguh-sungguh bersedekah demi berharap ridho Allah memudahkan jalanku di dunia.

Dan aku masih mengira, langkah ringanku di dunia ini sudahlah menjadi hakku semata.

Tidak mampu jasa orangtua dibalas anak, sedikitpun,

sampai kapanpun.


Selasa, 11 April 2023

Garis hidup

Shamyra's POV:

"Ah itu terlalu sedikit.." ujarku melihat berapa banyak yang gadis ini sendokkan ke piringnya. Alchentys terlalu perhitungan, bahkan makan banyak pun tidak akan mengubah penampilannya. Ia bukan orang yang mudah gemuk! Tapi ia tidak menggubrisku, ia lanjutkan dengan mengambil dua potong lauk lalu matanya mengitari ruangan mencari tempat duduk kosong. "Ini pesta kelulusan Ratervyn, tidak ada salahnya ikut memeriahkannya dengan melupakan dietmu." sambungku. "Kau sendiri, mana makananmu? dasar tukang omel." timpalnya kemudian. "Ya nanti, aku belum lapar.." diam-diam mataku berkeliling mencari sosok yang sudah menjadi tujuanku sejak dari rumah tadi.

Sosok itu tertangkap mataku, sedang bercakap-cakap dengan teman sekelas kami juga. Sudah, sudah puas aku hanya dengan menemukannya seperti itu. "Oke aku akan ambil makananku.." 

Ratervyn menghampiri kami saat baru selesai makan, "sepertinya aku berhasil menciptakan momen indah sebelum aku meninggalkan kota ini. aku pasti akan merindukan mereka semua.." Ratervyn akan melanjutkan kuliah di negeri kanguru Australia, ia memperoleh beasiswa dari pemerintah Australia dan akan mengambil jurusan hubungan internasional. Aku dan Alchentys juga melanjutkan kuliah di dua tempat berbeda, Alchentys di Malaysia jurusan rekayasa pertanian dan aku di Beijing dengan jurusan penerjemahan tingkat tinggi. Kami pun sama-sama memperoleh beasiswa dari pemerintah kedua negara tersebut.

Dvanerio's POV:

Keadaan di negara ini semakin kacau, aku mengkhawatirkan nasib ayah sebagai kepala polisi, dan juga mengkhawatirkan kami.. Lamunanku buyar ketika pintu kamarku diketuk, sudah pukul 11 malam, suara ayah terdengar dari balik daun pintu. Aku membukakan pintu, sinar temaram yang  menerpa wajah ayah menambah kekakuannya. "Ayah akan menyekolahkanmu ke China." ujarnya pendek. Aku tahu maksudnya, tak perlu aku minta penjelasan lebih jauh, tak perlu aku banyak bertanya. Hanya kupandangi raut dan gurat wajahnya lama, mungkin tidak lama lagi wajah ini yang akan amat kurindukan. "Bagaimana ibu?" sedikit penasaranku tercurah juga. "Ibu bersama ayah, di sini. Jika keadaan lebih buruk dari ini, ia akan menyusul keluarganya ke Malaysia."


Shamyra's POV:

2 hari sudah aku di Beijing dan mulai tinggal di asrama kampus. Aku tiba saat musim baru berganti, namun udara dingin masih sangat terasa bahkan di waktu-waktu tertentu hingga menusuk tulang. 
Saat ini masih libur panjang sehingga suasana kampus masih sepi. Minggu-minggu pertama sejak kedatanganku kugunakan untuk menyelesaikan berbagai keperluan dasar. 

Sabtu pagi yang cerah, aku baru saja pulang membeli telur di supermarket karena persediaan telurku sudah habis. Notifikasi pesan singkat muncul dari handphoneku, pengumuman dimulainya ajaran baru.

Pukul 08.00 pagi di hari Senin yang masih dingin, aku mengayuh sepeda bekas yang kubeli di toko sepeda kecil di salah satu sisi kampus dua minggu yang lalu. Aku akan memulai kelas pertamaku hari ini. Aku memarkirkan sepedaku lalu bergegas masuk kelas, setelah menyusuri lorong aku menuju ruang kelas ketiga jika dihitung dari pangkal lorong tadi, namun ketidak hati-hatianku menyebabkan aku tidak melihat bahwa pintu kelas tidak sepenuhnya terbuka, aku membentur pintu yang ada di sebelah kiriku dan spontan terpental ke kanan, sayangnya ruang di kanan tempat aku mendarat tidak kosong melainkan ada seseorang yang berjalan mendekat karena ia sepertinya hendak ke luar kelas. BRUK! tidak terelakkan akupun menabraknya, ia spontan menahan tubuhku dengan tangannya ditempatkan di bahuku, tidak lama. "Kamu tidak apa-apa?" Sungguh hari pertama yang ada-ada saja.

Jumat, 05 Maret 2021

Jalan jalan kilat

Oke jadi kemarin itu bener-bener tetiba aja pengen ke satu mall karena nyari sesuatu yg udah lama pengen banget dibeli. Akhirnya selesai kerjaan, melipirlah aku naik gojek ke sini 👉


Dan karena perginya aja udah hampir jam 6 sore, so nyampe sana aku sholat dulu di musholanya,, gegara pandemi semua mall setau aku udah ga nyediain mukena lagi, jadi aku kemarin bawa mukena. 

(tapi yg warna putih itu bukan mukena aku, ya) 

Mall ini termasuk deket dari tempat kerja, apalagi aku naik gojek, jadinya cepet sampe. 

So, abis sholat sebenernya udah lappppeeer... Tapi oke aku cuss dulu ke tempat tujuan aku, biar makannya tenang 😜


Ini hasil perburuannya, 7 pcs! 

(kalo kemeja yg ini cuma coba aja di kamar pas)

Seneng banget rasanya bisa beli apa yang aku pengenin sejak lama itu.. 

Memang rasanya kayak kita deserve ya, karena kita kerja keras, punya uang sendiri, karena aku bahkan syukurnya jarang banget beli baju, kalo bener-bener butuh aja. Jadi rasa senengnya setelah bisa beli apa yg diinginkan itu, bener-bener seneng.

Jadi setelah perburuan selesai, aku ke tempat makan yg udah agak lama emang pengen ke sana juga.. 




Jadi kemarin malem itu aku bener-bener kea treat diri sendiri dan aku happy banget. 

Thanks for Reading 📖 see you in my next life story! 

Senin, 21 Desember 2020

Hari ibu (?)

Semakin lama semakin enggan aku mengucapkan atau melakukan action apapun di tanggal 22 Desember. Pun hari ini. Menurut diriku pribadi, ungkapan perasaan sayang ke ibu ga cuma satu hari, dan kalau di satu hari itu berlaku habis-habisan sementara di 300an hari lainnya cuek, tampaknya klise sekali ucapan hari ibu itu. Alasan lain dan ini lebih utama adalah aku khawatir, dari postingan tentang ibu yg aku buat bisa bikin sedih temen-temenku yg qadarullah Ibunya udah ga ada. 


Padahal, aku adalah orang yg cuma denger beberapa bait lagu ttg ibu aja nangis, ada hal remeh yg berkaitan dengan ibu aja mewek. Padahal aku juga pengen posting sesuatu, sama halnya jika aku dapat ucapan serupa dari orang lain rasanya seneng. Tapi hatiku enggan. 

Lebih baik kirim personal message aja. Ga perlu semua dunia tau, tapi cukup ibuku tau aku memang sayang dia. 💕

Senin, 28 September 2020

Isi hati

 Seribu doa ingin kupanjatkan padaMu. Kusampaikan semua keluh dan asaku... 

Namun, lidahku tak mampu. Hanya terdiam dan menikmati kesunyian, terjebak kenangan. 

Lalu, air mataku mengalir sendu. Semoga sampai isi hatiku padaMu... 




Ttd, 

Pagi ini. 

Minggu, 26 Januari 2020

Corona Virus (edisi belajar bahasa Mandarin)

Sedang belajar menulis dengan aksara Mandarin, silakan bantu support ya hahaha...
Kurang dari sebulan yang lalu tiba-tiba muncul virus baru yang langsung mewabah di negeri tirai bambu, China.  Kota-kota besar yang terinfeksi segera mengisolasi warganya, banyak toko yang tutup, teman  saya yang tidak pulang dan stay di asrama menceritakan "di sini seperti kota hantu".
Semoga musibah ini cepat berlalu, terutama sekali semoga segera dirilis vaksinnya.
Tenang yah ada translate-an nya... Ini juga baru banget belajar (sekitar 3 bulan yg lalu) jadi buat yang memahami Hanzi ini pastilah tulisan yg sangat sederhana, dan tentunya masih banyak kesalahan juga.
Mohon dimaafkan yaaa.


Corona virus (冠状病毒)
攻击呼吸道的病毒,症状类似于肺炎, 由动物传播.  中国湖北省武汉市是传播的源头.
这种病毒是一种称为2019-nCoV的新类型病毒 (novel coronavirus).
这种病毒已经感染了至少2000人,并且没有疫苗,需要做的预防措施包括:
1. 避免去动物市场
2. 避免去拥挤的地方
3. 使用鼻和嘴保护,眼睛保护,并穿封闭的衣服
4. 从户外回来后用肥皂洗手
5. 打喷嚏和咳嗽时遮住鼻口,立即洗手
6. 保持体力
7. 避免吃生肉和生鸡蛋。
8. 如果呼吸急促,请访问健康中心,尤其是在旅行后发生

2020年1月26日,这种病毒夺去了56人的生命,而关于该病毒的第一次报告直到一个月前才公布.
事实上,一些国家(如澳大利亚和美国)报告了这种病毒感染.
武汉居民是孤立的,因为他们不允许离开他们的家和活动在公共场所.

这种病毒困扰着我们所有人,因为它的传播非常快,没有疫苗.  然而,无论我们身在何处,我们都会保持健康,有良好的饮食和锻炼.

昨天我们不知道 "novel coronavirus",今天有56人死于这种病毒,明天仍然是谜。为自己和他人做到最好. 愿我们永远受到全能的上帝的保护.



Virus Corona (Corona Virus)
Virus yang menyerang saluran pernapasan ini memiliki gejala yang mirip dengan pneumonia dan ditularkan oleh hewan. Kota Wuhan di Provinsi Hubei, China adalah sumber penularannya.
Virus ini adalah jenis virus baru yang dikenal sebagai 2019-nCoV (novel coronavirus) yang telah menginfeksi lebih dari 2000 orang dan belum memiliki vaksin.

Tindakan pencegahan yang perlu dilakukan diantaranya:
1. Hindari pergi ke pasar hewan;
2. Hindari pergi ke tempat ramai;
3. Gunakan pelindung hidung dan mulut, pelindung mata, dan kenakan pakaian tertutup;
4. Cuci tangan Anda dengan sabun SEGERA setelah kembali dari luar;
5. Tutup hidung dan mulut saat bersin dan batuk, SEGERA cuci tangan;
6. Jaga daya tahan tubuh (pola makan yang baik dan olahraga) ;
7. Hindari makan daging dan telur mentah;
8. Jika Anda sesak napas, kunjungi pusat kesehatan, terutama jika dirasakan setelah kembali dari perjalanan.

Pada tanggal 26 Januari 2020, virus tersebut telah merenggut nyawa 56 orang, sementara laporan pertama tentang virus ini dirilis kurang dari sebulan yang lalu (31 Desember 2019).
Bahkan, beberapa negara (seperti Australia dan Amerika Serikat) telah melaporkan adanya infeksi virus ini.

Penduduk Wuhan terisolasi karena mereka tidak diizinkan meninggalkan rumah dan beraktifitas di tempat-tempat umum.

Virus ini sungguh mengkhawatirkan kita semua karena menyebar sangat cepat dan belum ada vaksinnya.
Akan tetapi sebenarnya, di mana pun kita berada, kita tetaplah harus menjaga kesehatan, memiliki diet seimbang dan olahraga yang baik.

Kemarin kita tidak tahu tentang novel coronavirus ini.
Hari ini 56 orang meninggal karenanya,
Sementara hari esok masih menjadi misteri, lakukanlah selalu yang terbaik untuk diri kita sendiri dan orang lain.
Semoga kita selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sumber : kompas.com
jogja.tribunnews.com
Hangzhou Expat official account


阿依娜 (a yi na - Pratiwi .N),
北京外国语大学留学生, 2019 (international student from Beijing Foreign Studies University, 2019).

Selasa, 30 Juli 2019

Liburan

Jadi, Alhamdulillaah aku jadi liburan. Dengan pertimbangan dan rencana yg matang serta doa restu seluruh "orang penting". Aku berangkat ditemenin suami (iya lah biar ada yg foto-fotoin akyu..).

Singkat cerita kami berdua naik kereta Bima di malam tanggal 3 juli dari Cirebon. Nyampe Malang pas birthday.🤗😎

Yg menemani liburan

Sampai Hotel Kusuma Agrowisata karena jam check in masih lama jadi kami ke wisata Petik buahnya.




Kamar diupgrade ☆

Dari tipe Superior ke tipe Cottage dan itu asli baaaguuus bangeeet! Ada teras dengan kursi yang nyaman sesuai keinginan aku pula..happy deh jadinya, habis kayak yg bisa baca pikiran gitu wkwkwkw...

Sorenya lapar truz pengen jalan jalan, jadi kami makan di pujasera dekat alun2 Kota Batu. Hujan sebentar, pas reda lanjut cari mesjid dan sholat magrib and cuss Museum angkut berbekal GMaps.


Di Museum Angkut 

Pulangnya dinner di Amarta hills skylounge 15°c. Otw ke sana masih dengan motor sewaan.



5 juli

Selecta dan naik Skybike

Tuh skybikenya kelihatan

Pulang dr Selecta beli Apel Batu di pinggir jalan, saking pengennya ngerasain yg asli Batu. Truz otw Jatimpark 3. Wow tiketnya! tapi ga rugi sih...bagus bagus semua.



(Foto ke-3: Sempet ujan deres pas lagi main di JatimPark 3, jadi kami neduh dulu di ruang Sumo)


Malemnya ke BNS, main banyak Games dan di Games 'glinding bola ke kolom hadiah' dapet Jackpot 2x!! aku sekali suami sekali, beruntung ya.



6 juli

Bromo

(yang mau tanya-tanya gimana caranya aku ke Bromo, naik kendaraan apa aja, tips perjalanan ke Bromo, ketik di komentar yaaa...)


Pulang dari Bromo sempet ke Malang sebentar untuk beberapa keperluan dan muter-muter juga, nginep di cityhub Kajoetangan. Bagus juga kamarnyaa..ada balkonnya...

Kue dari suami


Pulang


Demikian liburan kami kali ini di Batu, Jawa Timur.

Reason


Selasa, 11 Juni 2019

Pengen liburan

Tgl 2 sore pulang
Tgl 3 berangkat
Tgl 4, 5 dan 6 liburan
Tgl 7 pulang
Tgl 8 balik jakarta


☆Pengen sekali liburan☆


Pengen sekali ke tempat yang pas buka mata di pagi hari liatnya pemandangan desa atau pegunungan atau laut. Udara yang sejuk adem dingin bikin rileks sambil minum teh atau kopi. Siangnya jalan-jalan ga ada beban apalagi mikirin kerjaan. Malamnya makan yang bikin seneng.

Tapi kalau ga ajak faiz, di sana pasti bakal kepikiran dia lagi apa, dia nangis engga, dia makan apa aja.

Sementara kalo diajak kayaknya ga bisa ngerasain liburan tenang sepenuhnya.


Jadi, lagi-lagi ngerasa lebih baik ga usah pergi.
Meskipun sebenarnya, ya pengen banget.

Passenger Princess (Bagian I)

  Bab 1 — Arah Pertama: Hidup yang Digerakkan oleh Diri Sendiri Ini tentang Rana — anak perempuan sederhana, hidup di keluarga yang pas-pa...