Bab 2 - Dunia Kerja dan Kelelahan, seperti jalanan yang macet..
Lulus dengan predikat cumlaude, Rana akhirnya bekerja di perusahaan swasta besar, nilai tawarnya cukup tinggi berkat kemampuannya berbahasa Mandarin dan ragam prestasi yang ia suguhkan melalui CV. Rana resmi bekerja di perusahaan tersebut sebagai asisten manajer dengan tugas utamanya menangani komunikasi korporat internasional.
Sebenarnya, Rana berada di titik tengah; di atas ada atasan yang menuntut hasil, sementara di sekitarnya ada beberapa rekan kerja yang melempar beban agar tugas mereka terlihat selesai (terlebih karena ia termasuk orang baru), sementara ekspektasi semua orang terhadap asisten manajer adalah “pasti bisa handle semuanya.” Mereka berdalih, “Rana disiplin dan serba bisa”. Posisi Rana memang kurang menguntungkan.
“Rana, tolong bantu revisi laporan ekspor itu, ya? Soalnya aku masih sibuk ngurusin invoice.” “Oke, aku bantu,” jawabnya singkat, meski itu jelas bukan bagiannya, di depannya layar laptop sudah penuh dengan file terbuka. “Rana, bisa bantu buatkan draf surat buat klien China? Aku belum sempat buka file-nya.” “Itu kan bagian kamu, Din.” “Iya, tapi kamu kan lebih cepat ngerjainnya. Tolong yaa..” Rana menatapnya sejenak. Rekannya hanya tertawa kecil, lalu pergi begitu saja.
Salah satu divisi yang sering bersinggungan dengan divisi tempat Rana adalah Business Development. Di divisi tersebut ada seorang pria lajang bernama Ravi, ia sudah di perusahaan itu dua tahun lebih awal dari Rana. Ravi sering memulai percakapan baik melalui chat maupun saat menunggu meeting mulai. Ravi dan Rana sempat juga beberapa kali makan siang bersama di luar., orang-orang menyangka ada percikan asmara diantara mereka, dan memang begitulah awalnya. Namun setelah beberapa bulan berlalu, hubungan mereka tidak bisa berkembang lebih jauh lagi, alasannya? Rana sering “terlalu sibuk” dan tidak bisa terbuka. Setelah perpisahan tak terdeklarasikan, Rana sempat merasakan kosong beberapa waktu, tapi ia tidak bisa berbuat banyak, dan perlahan ia pun kembali larut dengan deadline-deadlinenya. Saat itu sudah tiga tahun ia di perusahaan.
Semakin lama titik-titik kecil tanda burnout semakin banyak, penyebabnya sudah bisa ditebak: tidur larut, lupa makan, hidup hanya untuk kerja. Rana cukup jarang pulang ke rumah orangtuanya, mungkin hanya saat lebaran. Malam-malam lembur, makanan instan, Rana semakin lama semakin kehilangan arah hidupnya sendiri. Di hari kedua sebelum pergantian tahun, ia jalan-jalan sore dengan skuternya, awalnya ia hanya ingin membeli makan untuk dibawa pulang. Ia menyadari bahwa pusat kota sangat ramai dan terang, bukan dengan lampu, tetapi dengan kehidupan. Kendaraan berlalu lalang, orang-orang menikmati sore yang cerah itu, pedagang mainan anak-anak di pinggir jalan melengkapi suasana, serta cuaca bagus dengan angin berhembus lembut. Suasana di luar terlampau meriah bagi Rana.
Suatu hari Rana merasa pusing saat bangun pagi, namun ia abaikan dan bekerja seperti biasa. Meeting di kantor dimajukan mendadak karena pimpinan harus terbang ke Malaysia siang itu juga, Rana mempersiapkan segala keperluan rapat sambil menahan sakit di kepala. Sorenya saat sedang melahap makanan dari layanan pesan antar, rekan kerjanya meminta “bantuan” lagi untuk merevisi keseluruhan rancangan kegiatan di Uluwatu dengan deadline besok pagi, temannya beralasan harus pulang cepat karena menghadiri acara bridal shower temannya, ia merasa tidak enak karena sudah janji akan datang. Rana kembali lembur sendirian. Namun entah kenapa di malam itu ia benar-benar merasa kosong.
Rana pulang larut naik taksi, ia melihat bayangan dirinya di jendela mobil namun kalah dari lampu gedung yang berkerlap-kerlip sepanjang perjalanan yang hening. Rana membatin seolah tersadar akan sesuatu, “mau ngapain sampai kayak gini, setelah semua ini lalu apa, aku mau ke mana?” Setelah hampir lima tahun di perusahaan itu, dalam hal materi, gajinya lebih dari cukup untuk biaya hidupnya sendiri, ia rutin mengirimkan uang bulanan ke orang tua meski mereka tidak memintanya, Rana juga punya tabungan yang nilainya lumayan, terlebih ia pribadi yang hemat. “Maaf mba, ini tujuannya ke mana?” tanya sopir taksi, Rana terlonjak kaget, bahkan ia lupa memberitahukan tujuan pulangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar